CINTA NEGARA

Ketika intimidasi, ancaman dan gangguan dari kaum kafir Quraisy meningkat, Rasulullah menyarankan kaum Muslimin berhijrah ke Habsyah yang saat itu dipimpin oleh al-Najasyi, seorang raja yang baik dan tidak menzalimi rakyatnya. Dua kali kaum muslimin berhijrah ke Habsyah. Beliau sendiri masih berada di Mekkah dan melanjutkan dakwahnya. Belakangan, beliau juga melakukan hijrah ke kota Yatsrib yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah.

Mekkah merupakan kota metropolis yang kering (QS. Ibrahim  14: 37), sementara Madinah relatif lebih sejuk dan banyak penduduknya yang berprofesi sebagai petani. Selama berdakwah di Mekkah, Rasulullah menerima banyak gangguan bahkan upaya pembunuhan dari kaum kafir Quraisy. Namun saat menuju Madinah, beliau bersedih dan menyatakan bahwa Mekkah adalah kota yang sangat dicintainya. Secara kodrati, setiap orang akan mencintai tanah airnya, di mana ia dilahirkan dan hidup. Sungguh aneh, jika ada orang yang membenci tanah airnya sendiri.

“Hubbul wathan minal iman”, artinya cinta negara merupakan bagian dari keimanan. Ungkapan ini bukan berasal dari hadis, atau dalam bahasa lain kita sebut sebagai hadis palsu. Namun makna dari ungkapan ini benar, di mana kita memang harus mencintai negara dan tanah air kita sendiri.

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (QS. Al-Dzariyat 51: 56), dan semuanya ingin hidup berbahagia. Ibadah tidak bisa dilakukan dengan baik, dan kebahagiaan hidup tidak bisa diperoleh kecuali apabila negara kita aman, tenteram, dan sejahtera. Untuk itu, kita perlu menjaga negara yang kita tinggali dari segala gangguan dan ancaman baik dari luar maupun dari dalam negeri. Rasulullah menegaskan bahwa Allah memberikan pahala syahid bagi siapapun yang tewas akibat menjaga dirinya, hartanya, dan kehormatannya. Menjaga keselamatan dan kehormatan bangsa merupakan bagian dari menjaga keselamatan diri manusia.

Upaya merongrong kedaulatan negara, aktivitas yang memunculkan kegaduhan di tengah masyarakat, dan kriminalitas sama sekali bukan bentuk cinta negara dan pelakunya tidak layak diberi label “orang yang beriman”. Dalam banyak ayat Al-Quran dan hadis disebutkan ciri-ciri orang yang beriman, di antaranya adalah tidak mengganggu orang lain, tidak melakukan perusakan di muka bumi, baik kepada orang lain, dan menyebarkan keselamatan.

Dirgahayu Indonesia. Kami sungguh mencintaimu. Semoga Indonesia menjadi negeri yang baik dan mendapat ridha dari Allah (baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur).

Oleh: Andi Rahman, MA.