Megaproyek Peradaban Muslim Kontemporer

(Belajar dari Kejayaan Islam Masa Lalu)

Oleh: Lukman Hakim[1]

Salah satu persaingan yang cukup ketat di dunia dewasa ini adalah persaingan di bidang sains dan tehnologi. Umat Islam di berbagai belahan dunia saat ini tertinggal jauh bila dibandingkan umat-umat lainnya. Dominasi barat (Amerika, Eropa, Australia) atas peradaban modern di tambah dengan kebangkitan Asia Timur (China, Jepang, Korea, dsb) menunjukkan betapa posisi umat Islam dalam kancah internasional sangat memprihatinkan. Kontribusi umat-umat lain di bidang sains dan tehnologi cukup besar, di sisi lain umat Islam baik di negara-negara islam maupun berpenduduk mayoritas muslim bangga sebagai konsumen produk-produk impor. Tulisan singkat ini bertujuan untuk melacak pengalaman muslim masa lalu sekaligus melihat kemungkinan-kemungkinan positif yang dapat diadopsi bagi umat Islam masa kini sehingga  kembali mampu memegang hegemoni sebagai masyarakat yang superior atau setidaknya mampu bersaing dengan masyarakat dunia pada umumnya.

Pengalaman Muslim Masa Lalu

Semenjak Rasululullah SAW wafat, wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Strategi Rasulullah dalam mengurangi syu’ubiyah (kesukuan) dan kebiasaan berperang antar mereka manjur membawa mereka bersatu di bawah panji Islam. Revolusi mental yang cukup intens ini kemudian membawa masyarakat Arab menjadi kekuatan baru yang mengkhawatirkan bagi negara adidaya Byzantium dan Persia saat itu. Di bawah kendali Umar bin Khattab, umat Islam mulai menggerogoti kekuatan mereka. Umat Islam berhasil menguasai Damaskus (635 M) dan seluruh Syiria (636 M), Qadisiyah, Irak (637 M), Madain (637 M), Mosul , Irak (641 M), Mesir (641 M), Persia (642 M). Pada masa Usman, umat Islam menguasai Armenia, Tunisia, Rhodes, Transoxania dan Tabaristan. Masa pemerintahan Bani Umayyah, umat Islam sudah masuk hingga Kabul, Pakistan, India bahkan Cina bagian barat di wilayah Timur, dan seluruh Afrika Utara (Maroko, Aljazair, Tunisia , dsb) berturut-turut selama 53 tahun dari tahun 660 M hingga 705 M   dan Andalusia (711 M). Konstelasi politik dan militer berpihak kepada umat Islam. Luasnya wilayah Islam ini kemudian berdampak positif pada kemakmuran ekonomi. Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah mewajibkan bahasa Arab sebagai bahasa administratif pemerintahan. Masyarakat Arab menyebar ke wilayah-wilayah Islam baru dan mulai menduduki pos-pos penting sekaligus menjelma sebagai warga elit kelas satu. Lambat laun bahasa Arab kemudian menjadi lingua franca (bahasa pengantar) yang banyak dipelajari dan diminati oleh non-Arab muslim maupun non-muslim.

Di era Bani Abbasiyah, Umat Islam melesat jauh mengungguli umat-umat lainnya. Charlemagne, raja Perancis yang kala itu menemui Khalifah Harun al-Rasyid begitu takjub melihat keindahan kota Baghdad. Di sisi lain, umat Islam di Andalusia sudah memiliki 8000 lampu hias berjejer di sepanjang jalan di Kordoba dengan beberapa bangunan, istana, masjid (Kordoba), taman (jannat al-Arif; generalife) jauh melampaui kota-kota di Eropa, London di Inggris saat itu baru memiliki 1 lampu hias.

Kemajuan peradaban Islam semakin tumbuh subur dengan dibangunnya kota-kota satelit pusat ilmu pengetahuan seperti Baghdad, Damaskus, Kordoba, Granada, Kairo, Kairawan, Naisabur, Basrah, Kufah, dsb. Para Khalifah membangun perpustakaan misalnya Khalifah Hakam II di Andalusia memiliki 400 ribu koleksi buku, Nuh Bin Mansur seorang penguasa Dinasti Samaniyah perpustakaan pribadi – yang berisi ribuan buku – di mana Ibnu Sina mengawali ekspansi ilmu pengetahuannya. Fasilitas negara untuk para ilmuwan disediakan, Baitul Hikmah dibangun oleh Harun al-Rasyid dan dimapankan oleh al-Makmun; puteranya. Diskusi dan riset digalakkan sehingga tradisi berpikir mencapai puncak kejayaannya. Penerjemahan dilakukan di bawah kendali Yuhanna bin Masiwaih bersama Hunain bin Ishaq. Penerjemahan manuskrip kuno dari Suryani, Yunani, Romawi, Persia dilakukan pada masa Harun al-Rasyid kemudian masa al-Makmun aktivitas penerjemahan bertambah banyak, beberapa pakar dikirim ke Asia Tengah, India, Ethiopia, dan Kaukasus untuk mendapatkan tambahan koleksi buku.

Dukungan pemerintah sangat besar sebagaimana ditunjukkan oleh al-Makmun. Ia memberi emas kepada Hunain bin Ishaq seberat buku yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Pada masa ini, muncul ulama-ulama terkemuka, di bidang tafsir, hadis, fiqh, tasawuf termasuk pula bidang ilmu umum seperti kimia, geografi, sejarah dan sebagainya. Di bidang astronomi terdapat al-Farghani (800-870 M); ilmuwan muslim yang berhasil menentukan diameter bumi (6500 mil). Di bidang matematika muncul Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (Algorismus; 780-850 M); bapak Aljabar dan penemu angka nol, bahkan Algoritma merupakan serapan dari Algorisme; latinisasi dari namanya. Di sisi lain, banyak ulama/ ilmuwan yang mumpuni di dua bidang bervariasi (ilmu agama dan ilmu umum) dan banyak pula yang menguasai beberapa bahasa.

Pasca keruntuhan Bani Abbasiyah, muncul beberapa kerajaan independen seperti Kerajaan Usmani di Turki (1299-1924 M), Safawi (1501-1736 M) di Persia, Mughal di India (1526-1858 M) dan Aceh Darussalam (1520-1903 M) di Nusantara. Peradaban Islam kembali dilanjutkan, karya tulis bermunculan. Di bidang lain seperti seni arsitektur dan militer mengalami kemajuan. Bersamaan dengan beberapa kerajaan Islam di atas, kerajaan Kristen Eropa bangkit, Portugal dan Spanyol di bawah arahan Paus di Vatikan mulai memasuki kawasan-kawasan muslim jauh termasuk menemukan jalan baru ke dunia baru (Amerika). Vasco Da Gama (1508) dari Portugal berjalan menyusuri pantai barat Afrika – dengan bantuan Muhammad bin Abdul Majid, seorang navigator muslim Afrika Utara – menuju Samudera Hindia. Portugis berhasil menguasai wilayah-wilayah Muslim di sekitar laut Hindia seperti Hurmuz, Aden, Goa (1504 M) dan Malaka (1511 M). Colombus berhasil memasuki Amerika bersamaan dengan reconquista; pengusiran besar-besaran terhadap orang muslim dari Spanyol (1492 M). dalam perkembangan berikutnya; negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Italia, Rusia mulai menduduki kawasan-kawasan muslim di Afrika Utara, Eropa Timur, Asia Tengah, Timur Tengah hingga kawasan muslim sekitar laut Hindia dan laut Cina Selatan. Keberanian bangsa Eropa mengarungi pantai dan menjelajahi kawasan-kawasan muslim didukung oleh kemajuan tehnologi khususnya di bidang militer. Perahu angkatan laut mereka lebih cepat dan persenjataan mereka jauh lebih lebih lengkap dan maju dari perahu Muslim dan perlengkapannya.

Kontribusi ulama Islam terhadap Renaissance (kebangkitan) Eropa cukup besar. Karya filsafat Ibnu Rusyd (Averoes), Qonun fi at-Tib karya kedokteran ibn Sina (Avicenna), al-Ibar; Muqaddimah karya sosiologi Ibn Khaldun dipelajari di kampus-kampus barat abad pertengahan hingga pada akhirnya mengantarkan Eropa Kristen mencapai kemajuan khususnya di bidang ilmu pengetahuan. Latinisasi nama ilmuwan muslim adalah sebuah contoh kongkrit betapa karya-karya mereka dihargai, dipelajari dan dipuji.  Beberapa nama tersebut antara lain; Al-farabi (alpharabius; 872-950 M), al-Battani (Albatenius; 858-929 M), ahli astronomi dan matematika, tentang penentuan matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Ibnu Sina (Avicenna; 980-1037 M) ahli filsafat dan pengobatan, Alfarghani (Alfraganus; 805-880 M), ar-Razi (Razes; 864-925 M), seorang kimiawan dan perintis kedokteran islam, thabit bin Qurrah (Thebith; 836-901 M) seorang astronomer sekaligus ahli Matematika, Umar at-Thabari (Omar Tiberiadis) seorang astronomer, al-Hasan ibn al-Haitam (Alhazen; 965-1039 M) seorang fisikawan, Ibnu Tufail (Abentofail; 1100-1185 M) seorang filosof sekaligus dokter dan sebagainya.

Di Barat – perlahan tapi pasti – banyak ilmuwan muncul di antaranya adalah Johannes Guttenberg (1400-1468 M) yang berhasil menemukan mesin cetak type metal (logam huruf), tinta berbasis minyak, cetak huruf secara tepat, ada  pula William Gilbert (1544-1603 M) seorang dokter istana dikenal sebagai bapak ilmu listrik dan ilmu magnet, selanjutnya muncul Isaac Newton (1642-1727 M) peletak dasar mekanika klasik, hukum gravitasi dan hukum gerak, kemudian James Watt (1736-1819 M) berhasil menciptakan mesin uap yang efisien masa revolusi industri dan masih banyak lagi ilmuwan barat yang terinspirasi dari pemikiran-pemikiran muslim. Kemajuan orang-orang barat di bidang sains dan tehnologi tersebut berawal dari suburnya tradisi berpikir di kalangan mereka dan hal ini lambat laun mengantarkan mereka menuju Peradaban Modern yang bisa dilihat hingga saat ini.

Menatap Kejayaan Muslim Masa Depan

Berpijak pada pengalaman di atas, terdapat beberapa poin penting yang menjadi penyangga majunya sebuah peradaban, di antaranya:

  1. Peran negara. Dalam hal ini pemerintah mulai yang terendah hingga tertinggi. Mereka adalah pemegang kebijakan yang berwenang melakukan tugas-tugas penting untuk kemajuan. Tugas negara adalah menfasilitasi, menstimulasi munculnya pengembangan riset, reward terhadap ilmuwan, memberi beasiswa dan sebagainya sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah al-Makmun.

  2. Peran ulama/ilmuwan. Ulama atau ilmuwan adalah penyangga peradaban. Dukungan penuh negara harus menjadi alasan kuat untuk membangan peradaban. Ilmuwan dapat meningkatkan mutu keilmuwanannya, melakukan riset mendalam, menciptakan tradisi berpikir yang kreatif dan maju.

  3. Penerjemahan besar-besaran atas karya-karya monumental. Hal ini dilakukan untuk memotivasi bibit-bibit unggul yang produktif dengan mempelajari karya-karya para pakar. Dalam membangun sebuah peradaban, diperlukan bendungan yang cukup kuat untuk mengisi air ilmu pengetahuan terlebih dahulu hingga kemudian mampu meciptakan peradaban sendiri. Munculnya peradaban baru tidak bisa dilepaskan dari peradaban-peradaban sebelumnya, karena itu sikap keterbukaan menerima hal-hal positif yang mendorong pada kemajuan perlu ditingkatkan. Selain bersandarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, peradaban Islam masa lalu sedikit banyak dipengaruhi oleh peradaban-peradaban Yunani, Persia, India, Cina dan sebagainya. Interaksi ilmuwan muslim dengan karya-karya Yunani, Persia, India, Cina menyebabkan terjadinya kemajuan yang pesat di semua lini pendidikan.

  4. Membangun mindset berpikir yang kreatif dan maju. Tanpa pola pikir yang kreatif, peradaban akan sulit tercapai. Mindset kreatif yang dimaksud adalah sebuah pola pikir dapat membawa umat Islam maju di bidang agama termasuk pula sains dan tehnologi sebagaimana juga umat-umat yang lain tentunya dengan pemahaman teologis yang mengapresiasi kemajuan.

  5. Penguasaan bahasa asing terutama bahasa ilmu pengetahuan modern seperti bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Jepang dan sebagainya. Bahasa adalah jendela ilmu pengetahuan. Karena itu, dengan kemampuan bahasa asing ini maka Umat Islam akan mampu menjelajahi dunia ilmu pengetahuan dengan mudah. Menengok pada pengalaman masa lalu,  ditemukan banyak ulama/ilmuwan yang menguasai lebih dari satu bahasa.

 

Peradaban Islam masa lalu adalah fakta historis dan bukan isapan jempol belaka. Bukan untuk berbangga menatap kreativitas yang telah mereka hasilkan, namun kemajuan mereka hendaknya dapat memacu semangat umat Islam masa kini untuk mengambil pelajaran yang positif sehingga mampu bersaing dengan umat lain di era baru ini.

Poin-poin di atas, dapat terwujud bila seluruh komponen masyarakat Islam bersinergi, saling bahu membahu demi tercapainya sebuah peradaban baru. Harapan-harapan besar ini utamanya disematkan pada pusat-pusat pendidikan Islam semisal, madrasah, Perguruan Tinggi Islam bahkan pesantren sebagai basis keagamaan yang mengakar cukup kuat dan memiliki sejarah perjuangan yang cukup panjang di Nusantara. Dengan demikian tidak mustahil pusat pendidikan Islam dapat menjadi pioneer munculnya ilmuwan-ilmuwan Muslim kontemporer. Wallahu a’lam bi as-shawab.

 

[1] Kandidat Doktor Sejarah UIN Jakarta, Alumnus MA Mambaul Ulum Bata-Bata tahun 1996 dan saat ini Dosen Tetap Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an Jakarta.